Senin, 08 Juli 2013

[ShortStory] Nah Loh, Kena Deh !


§ Shabrina Fadhilah Prasetyo § Toronto’s Storyline §


            Namaku Shafara Faradilla Rusdiansyah, hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswi kelas delapan. Di sekolahku, ketika tahun ajaran baru tiba kita akan ditempatkan di kelas baru dengan teman-teman yang berbeda dari kelas sebelumnya. Banyak teman baru yang aku dapatkan di kelas delapan ini. Salah satunya adalah Haydarrus Rizky Prasetyo. Dia adalah teman yang unik. Berkulit putih dengan wajah yang tampan dan tubuh yang tinggi. Tapi bukan itu yang membuatku tertarik padanya, melainkan sifatnya yang sangat berbeda dengan anak laki-laki lainnya. Ekspresinya selalu dingin dan terkesan cuek atau tidak peduli. Orang yang tidak mengenalnya pasti akan menganggapnya sombong dan sok keren. Meski begitu, hanya dia murid laki-laki di kelasku yang berani mengerjakan tugas di papan tulis dan itu menunjukkan bahwa dia anak yang pintar.


            Suatu hari ketika kami sedang mengerjakan ulangan agama islam, aku mendapati Rizky sedang mencontek ke Al-Quran yang sengaja ia taruh di loker mejanya. Ide jahil pun muncul di kepalaku. Sesampainya di rumah, aku langsung membuka salah satu jejaring sosial dan mengirimi Rizky sebuah pesan. Aku bermaksud meledek Rizky sekaligus sebagai tanda perkenalan lewat pesan itu. Tak lama ia membalas pesanku. Awalnya ia tidak peduli dengan  pesanku, tapi lama kelamaan dia malah membalasnya dengan kata-kata kasar. Aku yang mudah tersinggung langsung membalasnya dengan kata-kata yang tidak kalah kasar. Aku tahu ini salah, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau terlihat kalah di depan dia. Akhirnya adu mulut lewat jejaring sosial ini pun dimulai. Hari pertama, hari kedua, hari ketiga masih berjalan lancar. Belum ada rasa jengkel dan kesal yang terlihat di muka Rizky ketika aku menemuinya di sekolah.

            Hari ini adalah hari keempat sejak aku beradu mulut dengan Rizky lewat jejaring sosial. Rizky masuk ke kelas dan duduk di belakangku. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan benar saja. Tak lama setelah Rizky duduk, dia langsung memarahiku habis-habisan dari tempat duduknya. Aku sangat kaget dan takut, yang aku lakukan hanya  menunduk membaca buku pura-pura tidak mendengarnya.
Ketika istirahat aku memikirkan apa yang baru saja dilakukan Rizky kepadaku.

“Jika aku hanya diam setelah dia memarahiku, dia pasti akan merasa menang,”pikirku.
Maka ketika bel pulang berbunyi, aku langsung menghampirinya di depan kantin.

“Hei Rizky, maksud kamu apa marah-marahin aku tadi pagi?”tantangku.

“Harusnya aku yang tanya apa maksud kamu mengirimi aku pesan seperti itu? Kalau kamu suka sama aku ya bilang saja. Tidak perlu meledek begitu,” balasnya sambil berjalan ke arahku.

Secara spontan aku langsung melangkah mundur agar tidak bertubrukkan dengannya. Rizky sangat menakutkan ketika sedang marah dan dia tidak berhenti mengatakan semua yang membuat dia kesal terhadapku. Sedangkan aku berusaha sebisa mungkin membalas perkataannya untuk menutupi rasa takutku. Setelah puas memarahiku, Rizky berbalik meninggalkanku sambil mengacungkan jari tengahnya kepadaku.
Setelah dia pergi, aku langsung menemui Maya sahabatku. Aku menceritakan semuanya pada Maya dan saran yang dia berikan sederhana, minta maaf ke Rizky. Awalnya aku sangat gengsi, tapi bagaimanapun juga Rizky adalah teman sekelasku yang duduk hanya beda dua meja dariku dan jelas-jelas aku punya salah dengannya. Tidak mungkin aku bertengkar dengannya selama satu tahun sampai kita naik kelas. Akhirnya aku memberanikan diri mengirim pesan permintaan maaf padanya. Tak lama, dia membalas pesanku dengan mengatakan bahwa dia sudah memaafkanku. Meskipun begitu, aku masih merasa tidak enak dengannya.

Sejak saat itu aku semakin tertarik dengan Rizky. Dia memang galak, dingin dan cuek. Tapi dibalik itu semua, dia adalah anak yang baik. Buktinya dia punya banyak teman di sekolah, salah satunya karena dia selalu bermurah hati membagikan ilmunya kepada teman-temannya. Bahkan dia tidak marah jika hasil kerjanya dicontek oleh orang lain, asalkan itu bukan ulangan. Aku sendiri pun sering mencontek pekerjaannya. Di samping semua sifat baiknya itu, dia memang selalu berperilaku kasar dan dingin kepada orang yang belum lama dia kenal.


Akhir-akhir ini aku selalu memperhatikan Rizky kapanpun dan dimanapun. Di kelas, di kantin, ketika pelajaran olahraga bahkan ketika akan shalat.Aku juga pernah sengaja datang terlambat agar bisa masuk ke kelas bersama dia. Tiap malam aku selalu menonton pertandingan sepak bola yang biasa dia tonton. Aku selalu berusaha keras mencari tahu segala informasi tentang Rizky. Dan yang lebih parahnya lagi,aku pernah membuntutinya sepulang sekolah hanya untuk mengetahui di mana rumahnya. Aku sendiri tidak tahu apa manfaat dari semua itu, hanya saja aku selalu merasa senang jika melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan dia. Tapi dari semua hal-hal aneh yang aku lakukan, tetap saja aku tidak berani berbicara langsung dengannya. Jangankan berbicara, ketika dia lewat di depanku saja, jantungku selalu berdetak lebih cepat, tanganku menjadi dingin, dan mulutku terkatup rapat, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Sepertinya aku mulai terpesona dengannya. Mungkin ini yang dinamakan suka atau cinta. Entah apapun itu namanya, yang jelas sekarang aku ingin mengenalnya lebih jauh, bukan untuk mengajaknya bertengkar seperti dulu, melainkan untuk mendapatkan hatinya yang sedingin es.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar