§ Shabrina Fadhilah Prasetyo § Toronto’s Storyline §
Namaku Shafara Faradilla
Rusdiansyah, hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswi kelas delapan. Di
sekolahku, ketika tahun ajaran baru tiba kita akan ditempatkan di kelas baru
dengan teman-teman yang berbeda dari kelas sebelumnya. Banyak teman baru yang
aku dapatkan di kelas delapan ini. Salah satunya adalah Haydarrus Rizky
Prasetyo. Dia adalah teman yang unik. Berkulit putih dengan wajah yang tampan
dan tubuh yang tinggi. Tapi bukan itu yang membuatku tertarik padanya,
melainkan sifatnya yang sangat berbeda dengan anak laki-laki lainnya.
Ekspresinya selalu dingin dan terkesan cuek atau tidak peduli. Orang yang tidak
mengenalnya pasti akan menganggapnya sombong dan sok keren. Meski begitu, hanya
dia murid laki-laki di kelasku yang berani mengerjakan tugas di papan tulis dan
itu menunjukkan bahwa dia anak yang pintar.
Suatu hari ketika kami sedang
mengerjakan ulangan agama islam, aku mendapati Rizky sedang mencontek ke
Al-Quran yang sengaja ia taruh di loker mejanya. Ide jahil pun muncul di
kepalaku. Sesampainya di rumah, aku langsung membuka salah satu jejaring sosial
dan mengirimi Rizky sebuah pesan. Aku bermaksud meledek Rizky sekaligus sebagai
tanda perkenalan lewat pesan itu. Tak lama ia membalas pesanku. Awalnya ia
tidak peduli dengan pesanku, tapi lama
kelamaan dia malah membalasnya dengan kata-kata kasar. Aku yang mudah
tersinggung langsung membalasnya dengan kata-kata yang tidak kalah kasar. Aku
tahu ini salah, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau terlihat kalah di depan
dia. Akhirnya adu mulut lewat jejaring sosial ini pun dimulai. Hari pertama,
hari kedua, hari ketiga masih berjalan lancar. Belum ada rasa jengkel dan kesal
yang terlihat di muka Rizky ketika aku menemuinya di sekolah.
Hari ini adalah hari keempat sejak
aku beradu mulut dengan Rizky lewat jejaring sosial. Rizky masuk ke kelas dan
duduk di belakangku. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan benar
saja. Tak lama setelah Rizky duduk, dia langsung memarahiku habis-habisan dari
tempat duduknya. Aku sangat kaget dan takut, yang aku lakukan hanya menunduk membaca buku pura-pura tidak
mendengarnya.
Ketika
istirahat aku memikirkan apa yang baru saja dilakukan Rizky kepadaku.
“Jika aku hanya diam setelah dia memarahiku,
dia pasti akan merasa menang,”pikirku.
Maka
ketika bel pulang berbunyi, aku langsung menghampirinya di depan kantin.
“Hei Rizky, maksud kamu apa marah-marahin aku
tadi pagi?”tantangku.
“Harusnya aku yang tanya apa maksud kamu
mengirimi aku pesan seperti itu? Kalau kamu suka sama aku ya bilang saja. Tidak
perlu meledek begitu,” balasnya sambil berjalan ke arahku.
Secara spontan aku langsung melangkah mundur
agar tidak bertubrukkan dengannya. Rizky sangat menakutkan ketika sedang marah
dan dia tidak berhenti mengatakan semua yang membuat dia kesal terhadapku.
Sedangkan aku berusaha sebisa mungkin membalas perkataannya untuk menutupi rasa
takutku. Setelah puas memarahiku, Rizky berbalik meninggalkanku sambil
mengacungkan jari tengahnya kepadaku.
Setelah dia pergi, aku langsung menemui Maya
sahabatku. Aku menceritakan semuanya pada Maya dan saran yang dia berikan
sederhana, minta maaf ke Rizky. Awalnya aku sangat gengsi, tapi bagaimanapun
juga Rizky adalah teman sekelasku yang duduk hanya beda dua meja dariku dan
jelas-jelas aku punya salah dengannya. Tidak mungkin aku bertengkar dengannya
selama satu tahun sampai kita naik kelas. Akhirnya aku memberanikan diri
mengirim pesan permintaan maaf padanya. Tak lama, dia membalas pesanku dengan
mengatakan bahwa dia sudah memaafkanku. Meskipun begitu, aku masih merasa tidak
enak dengannya.
Sejak saat itu aku semakin tertarik dengan Rizky.
Dia memang galak, dingin dan cuek. Tapi dibalik itu semua, dia adalah anak yang
baik. Buktinya dia punya banyak teman di sekolah, salah satunya karena dia
selalu bermurah hati membagikan ilmunya kepada teman-temannya. Bahkan dia tidak
marah jika hasil kerjanya dicontek oleh orang lain, asalkan itu bukan ulangan.
Aku sendiri pun sering mencontek pekerjaannya. Di samping semua sifat baiknya
itu, dia memang selalu berperilaku kasar dan dingin kepada orang yang belum
lama dia kenal.
Akhir-akhir ini aku selalu memperhatikan Rizky
kapanpun dan dimanapun. Di kelas, di kantin, ketika pelajaran olahraga bahkan
ketika akan shalat.Aku juga pernah sengaja datang terlambat agar bisa masuk ke
kelas bersama dia. Tiap malam aku selalu menonton pertandingan sepak bola yang
biasa dia tonton. Aku selalu berusaha keras mencari tahu segala informasi
tentang Rizky. Dan yang lebih parahnya lagi,aku pernah membuntutinya sepulang
sekolah hanya untuk mengetahui di mana rumahnya. Aku sendiri tidak tahu apa
manfaat dari semua itu, hanya saja aku selalu merasa senang jika melakukan
segala sesuatu yang berhubungan dengan dia. Tapi dari semua hal-hal aneh yang
aku lakukan, tetap saja aku tidak berani berbicara langsung dengannya. Jangankan
berbicara, ketika dia lewat di depanku saja, jantungku selalu berdetak lebih
cepat, tanganku menjadi dingin, dan mulutku terkatup rapat, tak mampu mengeluarkan
sepatah katapun. Sepertinya aku mulai terpesona dengannya. Mungkin ini yang
dinamakan suka atau cinta. Entah apapun itu namanya, yang jelas sekarang aku
ingin mengenalnya lebih jauh, bukan untuk mengajaknya bertengkar seperti dulu,
melainkan untuk mendapatkan hatinya yang sedingin es.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar