§ Putra
Perdana H. § Toronto’s Storyline §
Langsung kuacungkan tanganku. “Maaf
pak, saya pikir jika kita akuisisi saham perusahaan itu setelah mereka
meluncurkan produk barunya, kita akan lebih untung.” Direktur menjawab, “hmm...
bisa kamu jelaskan usulan kamu lebih rinci lagi?” Belum sempat kujawab
pertanyaan direktur, tiba-tiba ruang rapat ini berguncang dengan keras.
Benda-benda di sekelilingku menghilang satu per satu ditelan sinar matahari
pagi yang menyilaukan mataku.
“Bangun man, bangun!” teriak ibuku
sambil mengguncang-guncang tubuhku. “Udah jam enam ini! Kamu mau bangun jam
berapa lagi?!” Kutolehkan pandanganku yang masih berat ini ke arah jam dinding
di atas pintu. “Baru juga lewat seperem... hah?! Udah jam segini?!” Aku
langsung loncat dari tempat tidur dan mengacak-acak lemariku laksana orang
kesetanan. “Kemeja Ilman mana bu?!” Ibuku menjawab, “udah ibu siapin di sofa.
Kamu langsung mandi aja gih sana.” Aku langsung lari terbirit-birit ke kamar
mandi, menyambar handuk di gantungan, kemudian masuk ke kamar mandi.