§ Putra
Perdana H. § Toronto’s Storyline §
Langsung kuacungkan tanganku. “Maaf
pak, saya pikir jika kita akuisisi saham perusahaan itu setelah mereka
meluncurkan produk barunya, kita akan lebih untung.” Direktur menjawab, “hmm...
bisa kamu jelaskan usulan kamu lebih rinci lagi?” Belum sempat kujawab
pertanyaan direktur, tiba-tiba ruang rapat ini berguncang dengan keras.
Benda-benda di sekelilingku menghilang satu per satu ditelan sinar matahari
pagi yang menyilaukan mataku.
“Bangun man, bangun!” teriak ibuku
sambil mengguncang-guncang tubuhku. “Udah jam enam ini! Kamu mau bangun jam
berapa lagi?!” Kutolehkan pandanganku yang masih berat ini ke arah jam dinding
di atas pintu. “Baru juga lewat seperem... hah?! Udah jam segini?!” Aku
langsung loncat dari tempat tidur dan mengacak-acak lemariku laksana orang
kesetanan. “Kemeja Ilman mana bu?!” Ibuku menjawab, “udah ibu siapin di sofa.
Kamu langsung mandi aja gih sana.” Aku langsung lari terbirit-birit ke kamar
mandi, menyambar handuk di gantungan, kemudian masuk ke kamar mandi.
Oh iya, namaku Ilman. Aku baru saja
lulus dari FEUI. IP-ku 3,65. Aduh, nyaris cum laude tuh.... Tapi
alhamdulillah lah, baru beberapa hari lulus sudah ada perusahaan yang
menawariku bekerja sebagai pialang saham.
Ekonomi, pelajaran kesukaanku sejak
SMP. Entah mengapa. Sejak dulu aku lebih suka nonton berita ekonomi ketimbang
acara musik atau film. Para ekonom yang bicara soal perkiraan masa depan,
pialang-pialang yang mondar-mandir angkat telepon di bursa saham, angka-angka
dengan panah hijau dan merah di sampingnya, omongan orang-orang itu tampak
pintar walaupun sebetulnya waktu itu aku samasekali tidak mengerti apa yang
mereka bicarakan.
Hari ini, jam 9 pagi. Aku harus
sudah menyerahkan berkas lamaranku sebelum waktu itu. Itulah mengapa aku sangat
panik pagi ini.
Sudah lima menit jebar-jebur,
aku langsung memakai baju dan kemeja yang sudah disiapkan ibuku. Setelah itu
aku kembali ke kamar dan menyalakan netbook-ku. Oke, semalam aku
ketiduran setelah nonton bola, dan suratku belum selesai. Tapi tinggal sedikit
lagi kok. “Setengah jam juga kelar,” pikirku.
Pelajaran pertama: jangan baru
kocar-kacir persiapan di hari H.
Kulihat jam tanganku. “Hah, udah
tujuh empat lima?!” Mati aku! Langsung saja aku print surat itu apa
adanya. Sambil menunggu print-an, kumakan roti bakar yang ibu siapkan di meja
belajarku.
Eh tunggu, jam tanganku 'kan
mati sejak semalam. Kulihat jam dinding. Ternyata masih jam tujuh. Ah, tenang
rasanya. Aku tidak akan seterlambat itu. Tapi aku harus tetap bergegas, karena
perjalanan dari rumahku ke calon kantorku cukup memakan waktu.
Printer sudah tidak bersuara, tanda
suratku sudah selesai. Kubaca hasilnya, ternyata tidak buruk. The power of
kepepet really works!
Oke,
semuanya siap. Kumasukkan surat, netbook, dan barang-barangku ke dalam tas. Jam
tanganku, ah pakai saja dulu. Aku bisa mampir ke tukang servis jam sepulang
dari sana.
“Bu, Ilman berangkat dulu ya!”
pamitku. “Iya hati-hati nak!”
Aku berlari ke pangkalan ojek di
depan perumahanku. “Ke stasiun ceban ya bang,” tawarku. “Mabelas
dek,” jawab abang ojek. “Ah ya udah, tapi buru ya bang, saya dikejar
waktu nih.” Langsung saja aku kenakan helm yang disodorkan abang ojek lalu
menaiki motornya. Abang ojek langsung melesatkan motornya ke arah stasiun.
Kecepatan motor ini semakin
dilejitkannya ketika kami melewati jalanan lurus yang sepi. Aih, ngeri! Aku
tidak berani membayangkan jika tiba-tiba ada ibu-ibu hendak menyebrang jalan
yang sedang kami hajar habis ini.
Dan benar saja, itu terjadi. “Stop
baang!” Untung saja abang ojek dapat menghindar. Tapi kemudian motor kami jadi
oleng, dan gedebuk! Motor kami jatuh. Aku terpental beberapa meter dari
motor itu. Untung saja pendaratanku mulus. Aku tidak mengalami luka, dan bajuku
masih bersih. Hanya saja kepalaku terasa agak sakit karena helmku tebentur aspal
jalanan.
Pelajaran kedua: helm itu penting.
Abang ojek juga tampaknya baik-baik
saja. Dia hanya mengalami sedikit luka lecet di kakinya. Aku langsung bangkit
dan menghampiri abang ojek. “Ah makanya ngebut juga hati-hati dong bang! Nih,”
omelku sambil menyerahkan uang dan helm. Aku langsung berlari mencari tukang
ojek lain tanpa memedulikan abang itu lagi.
“Ke stasiun bang, hati-hati ya,”
kataku. “Iya dek, ceban ya,” kata abangnya. “Iya deh bang.”
Setibanya di stasiun, aku langsung
membayar ojek kemudian berlari ke arah loket. “Tiket yang ke Tangerang satu
mbak. Pagi ini jadwal berangkatnya jam berapa aja?” tanyaku dengan nada agak
panik. Aku takut keretanya sudah berangkat. Kalau aku sampai terlambat
menyerahkan lamaran, matilah aku. Pengalaman kerja pertamaku sebagai pialang
bisa sirna bagai dibakar bersama mayat sang Jatayu.
“Jam 7:30, 8:00 sama jam 10:30.
Sembilan ribu ya dek,” jawab penjaga loket. Kuserahkan uang sepuluh ribuan lalu
kumasukkan kembalian dan tiketnya ke dalam dompetku. Aku ingin meyimpan tiket
ini sebagai kenang-kenangan pekerjaan pertamaku.
Kulihat jam tanganku, “masih
seperempat jam lagi. Makan dululah barang sekedar.” Perjalanan kereta ke
stasiun Tangerang memakan waktu sekitar 45 menit. Dan untungnya calon kantorku
terletak tidak jauh dari stasiun Tangerang. Jadi menurut deduksiku, aku bisa
tiba di sana tepat lima menit sebelum tenggat waktu. Sebetulnya aku bisa saja
naik bis, tapi macetnya itu lho....
Sambil memegangi kepalaku yang masih
agak sakit, kulangkahkan kakiku menuju gerai makanan kecil di pojok peron satu.
Di sana kupesan semangkuk mi rebus rasa ayam untuk memuaskan perutku yang masih
lapar karena baru dipasok roti bakar. Kusantap mi rebus itu dengan lahapnya.
Sampai semangkuk sarapanku itu
habis, aku belum mendengar pengumuman soal keretaku. Jadi kubaca saja koran
yang teronggok di atas meja untuk menunggu waktu. 15 menit, 20 menit, beberapa
pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta sudah terdengar, tapi tidak ada
yang menyebut nama Tangerang.
“Mas, kereta ke Tangerang yang jam lapan
emang biasa telat ya?” tanyaku kepada abang penjaga gerai. “Lha kereta
ke Tangerang nanti jam setengah sebelas baru ada lagi mas.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar